Sabtu, 16 Juli 2011

DAMPAK PARIWISATA TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT. studi etnografi pada masyarakat Rancabali Ciwidey Kabupaten bandung

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang masalah
Pembangunan berkelanjutan memang menjadi priolitas pemerintah yang membawa perkembangan dengan sangat pesat tetapi ada hal yang mesti di kaji lebih jauh yaitu akan terjadi perubahan dimasyarakat sebagaimana dikemukakan oleh Fuad Hasan(1993:114)
Masyarakat kita adalah masyarakat dalam perkembangan dengan tempo yang cukup pesat. Pembangunan social adalah bagian yang melekat langsung pada upaya pembangunan Nasional. Dalam segenap pembangunan niscaya ada dampak social yang tidak senantiasa bisa segera dicerna oleh semua warga masyarakat. Setiap upaya pembangunan social tidak mungkin dijamin bebas dari dampak negative.

Dengan demikian dari pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa Dalam perkembangan masyarakat yang diikhtiarkan secara berencana itu tentu saja bukan hasil hasilnya belaka yang diharapkan, akan tetapi justru karena direncanakan maka segala akibat dan dampaknya juga diperhitungkan, termasuk usaha mencegah sejauh mungkin dampak negative yang ditimbulkannya.
Dampak yang ditimbulkan dari pembangunan bukan hanya positip tetapi juga dampak yang tidak kita inginkan yaitu Negatif hal ini tidak bisa kita tolak karena merupakan hal yang lumrah dari efek pembangunan tersebut sebagaimana yang dikemukakan oleh Posman Simanjuntak (2003:188)
Pembangunan Nasional dilaksanakan secara berencana, bertahap, berkelanjutan, menyeluruh dan terpadu untuk memacu peningkatan kemampuan nasional dalam rangka mewujudkan kehidupan yang sejajar dengan bangsa lain yang lebih maju. Pelaksanaan pembangunan Nasional diantaranya meliputi ekonomi, hukum, sosial Budaya. Namun masyarakat belum sepenuhnya siap menerima perubahan yang dihasilkan oleh pembangunan sehingga berdampak kepada social budaya masyarakat baik dampak yang bersifat positif maupun yang Negatif.

Pengaruh yang Nampak dari pesatnya pembangunan adalah terjadinya Perubahan social budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai dan norma social merupakan salah satu dampak yang dirasakan sebagaimana yang dikemukakan oleh Ahmadi Abu (2004 : 14 )” perubahan sosial dan budaya meliputi berbagai bidang kehidupan dan merupakan masalah bagi semua institusi social seperti : industry, agama, perekonomian, pemerintahan, keluarga, perkumpulan perkumpulan dan pendidikan “.
Pokok yang terjadi pada perubahan social dan budaya diakibatkan dari perubahan yang berkembang pesat saat ini selain dari pengaruh Pembangunan, juga karena adanya penetrasi kebudayaan dari luar yang masuk dengan mudah akibat proses pembangunan itu sendiri. Diantaranya adalah proses dan berkembangnya pariwisata disuatu daerah yang banyak dikunjungi wisatawan.
Telah disadari bahwa praktik-praktik pariwisata, yang melihat kebudayaan (juga alam), terutama sebagai sumber komoditi, ternyata membawa dampak yang tidak selalu positif. Dampak positif yang biasanya langsung dan segera dapat dirasakan adalah dalam segi keuntungan ekonomi, sebagaimana yang telah di gariskan dalam Undang-Undang Tentang Kepariwisataan. No.9 Tahun 1990 yaitu Salah satu tujuan penyelenggaraan kepariwisataan adalah untuk meningkatkan pendapatan daerah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, juga memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja serta mendorong pembangunan daerah.
Untuk itu sudah selayaknya pariwisata dapat dijadikan alternatif penggerak perekonomian hingga sedemikian rupa menjadi sumber pendapatan bagi setiap daerah yang memiliki potensi untuk menyelenggarakannya, dalam upaya memperoleh atau meningkatkan pendapatan daerah. tetapi sesungguhnya keuntungan tersebut hanya merupakan keuntungan jangka pendek. Yang dirasakan kemudian adalah dampak buruknya, yaitu terhadap ekspresi dan eksistensi budaya yang dijadikan sumber komoditi itu.
Pariwisata yang menekankan pendekatan ekonomi cenderung memberikan peranan utama pada pemerintah atau pemilik modal, dan tujuannya juga ditentukan dan terutama untuk kepentingan mereka. Peranan masyarakat sangat rendah sehingga mereka cenderung tampak patuh dan tidak punya inisiatif karena lebih ditempatkan sebagai obyek daripada sebagai subyek. Sebagai akibatnya, adat-istiadat, nilai-nilai, dan norma-norma menjadi semakin terkikis. Ritual-ritual suci menjadi semakin dangkal dan pertunjukan-pertunjukan seni semakin tidak berjiwa. Masyarakat menjadi apatis dan kesejahteraan mereka pun tidak mengalami perbaikan. Pengaruh pariwisata terhadap masyarakat (kebudayaan) setempat, harus disadarai bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang secara internal terdeferensiasi, aktif, dan selalu berubah. Oleh karena itu pendekatan yang kiranya lebih realistis adalah dengan menganggap bahwa pariwisata adalah ‘pengaruh luar yang kemudian terintegrasi dengan masyarakat’, dimana masyarakat mengalami proses menjadikan pariwisata sebagai bagian dari kebudayaannya, atau apa yang disebut sebagai proses ‘turistifikasi’ (touristification). Di samping itu perlu juga diingat bahwa konsekuensi yang dibawa oleh pariwisata bukan saja terbatas pada hubungan langsung host-guest. Pengaruh di luar interaksi langsung ini justru lebih penting, karena mampu menyebabkan restrukturisasi pada berbagai bentuk hubungan di dalam masyarakat.
Dalam Pandangan halayak Pariwisata merupakan komersialisasi nilai nilai budaya demi mengeruk keuntungan yang besar. Pemikiran itu di kemukakan oleh Spillane ( 1994 :28 ) digolongkan dalam pendekatan Cauntionary, yaitu menganggap bahwa pariwisata menyebabkan berbagai macam konplik pandangan ini tidak dapat disalahkan karena pada dasarnya budaya dan pariwisata itu sering dianggap dua aktifitas yang penuh dengan konplik, disatu sisi karena adanya kepercayaan bahwa budaya bersifat tradisional, sedangkan disisi lain, pariwisata relative dianggap lebih modern dan dinamis.
Ketentuan ketentuan ini muncul karena dengan adanya kegiatan kegiatan pariwisata akan menyebabkan terkontaminasinya nilai nilai budaya asli suatu bangsa, dengan adanya kedatangan pengaruh budaya asing yang dibawa oleh wisatawan. Belum lagi muncul kesan dengan adanya pariwisata akan berbentuk kelompok masyarakat vertical Nasikum, (1994:31) yaitu yang dilayani dan melayani.
Penilaian subyektif terhadap pariwisata dalam persepektif budaya bahwa dengan adanya pariwisata justru menimbulkan akses negarif terhadap eksitensi nilai nilai budaya, sudah begitu melekat kuat dalam pandangan masyarakat luas, tetapi pada kenyataannya bila secara obyektif kita menilai justru tidak sedikit kontribusi atau sumbangan dan diberikan oleh Pariwisata terhadap kelangsungan hidup manusia dan akan menggairahkan kebudayaan asli, dan bahkan akan menghidupkan kembali kebudayaan kebudayaan yang sudah terlupakan.
Dalam hal ini penulis mencoba membahas dampak Pariwisata terhadap perubahan social budaya masyarakat di daerah Rancabali Ciwidey Kabupaten Bandung yang merupakan daerah pedesaan Agraris sebagai tujuan wisata yang terkenal di daerah Bandung Selatan.
Kecamatan Rancabali Merupakan wilayah pecahan dari Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung, sebagai daerah yang terletak di ketinggian 1700 dpl, mempunyai potensi alam yang sangat beragam, kesuburan tanah dan keindahan alam sangat dominan ditunjang dengan sarana Transportasi yang lancar sehingga terjadi perkembangan social kehidupan yang pesat salah satunya diakibatkan oleh peranan pariwisata didaerah ini.
Sebelumnya daerah ini merupakan daerah wisata yang dikunjungi wisatawan hanya sebatas melihat pemandangan alam yang tersebar di beberapa lokasi diantaranya adalah wisata perkebunan teh Rancabali, Sinumbra, Situ Patenggang, Pemandian air panas untuk pengobatan di Cibuni, pemandian air panas walini, Cimanggu, penangkaran rusa di Rancaupas dan Kawah putih. Wisatawan hanya meluangkan beberapa jam lamanya untuk menikmati keindahan alam tersebut tetapi sesuai dengan perkembangan, wisatawan akhirnya lebih lama berada di Rancabali dikarenakan salah satunya sarana dan prasarana daerah ini semakin lengkap diantaranya adalah tempat penginapan, baik penginapan biasa, Villa sampai hotel yang berbintang.
Semakin berkembangnya jumlah tempat penginapan maka semakin banyak pula lahan yang digunakan, pada mulanya lahan tersebut adalah lahan pertanian. Mengingat lahan tersebut dialih fungsikan maka penduduk di daerah itu beralih profesi diantaranya menjadi pedagang, tukang parkir, keamanan di penginapan dan bahkan ada yang pindah ke lereng bukit yang berbatasan dengan hutan lindung Gunung Patuha.
Selanjutnya yang dirasakan pengaruh dari wisatawan adalah beralihnya penanaman palawija yang selama bertahun tahun di daerah Rancabali ini terkenal dengan penyumbang hasil palawija di daerah Bandung sekarang banyak beralih menanam Stroberi yang hampir setiap orang di daerah ini menanamnya.
Pengaruh yang terjadi didaerah tersebut adanya perubahan perubahan social budaya yang meliputi berbagai unsur kebudayaan yang bersifat universal sebagaimana yang menjadi kajian penelitian ini adalah studi etnografi yaitu Sistem bahasa, Sistem mata Pencaharian, Sistem Teknologi, Organisasi Sosial, Pengetahuan, Kesenian, dan system Religi
B. Fokus Penelitian dan Rumusan Masalah
1. Fokus Penelitian
Latar belakang menunjukan arah dan dampak yang ditimbulkan oleh Pariwisata terhadap perubahan social budaya masyarakat di Rancabali Ciwidey . Rancabali merupakan Kecamatan pemecahan dari Kecamatan Ciwidey, merupakan daerah yang mempunyai keragaman dari segi Alam merupakan daerah pegunungan subur dan mempunyai keindahan alam selalu menjadi tempat yang ramai untuk dikunjungi dari berbagai tempat local bahkan dari mancanegara dari segi social dan budaya merupakan salah satu lingkungan yang mempunyai karakter pedesaan yang umumnya memegang teguh kebiasaan social budaya setempat.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka permasalahan penelitian ini dirumuskan Bagaimana dampak Perkembangan Pariwisata Terhadap perubahan Sosial Budaya.( study etnografi pada Masyarakat Rancabali Ciwidey Kabupaten Bandung).
Pertanyaan tersebut diuraikan kedalam beberapa pertanyaan khusus yang merupakan permasalahan yang ingin diungkapkan melalui penelitian ini :
1. Bagaimana dampak Pariwisata terhadap prilaku prilaku hidup Sosial Budaya masyarakat menurut Sistem mata Pencaharian
2. Bagaimana dampak Pariwisata terhadap prilaku prilaku hidup Sosial Budaya masyarakat menurut Sistem Kesenian
3. Bagaimana dampak Pariwisata terhadap prilaku prilaku hidup Sosial Budaya masyarakat menurut Sistem Religi
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah: secara umum untuk mengetahui Dampak Perkembangan Pariwisata terhadap social Budaya masyarakat Rancabali Ciwidey sedangkan secara khusus bertujuan untuk :
a. Mengetahui Kondisi social Budaya masyarakat Rancabali Ciwidey
b. Mengetahui perkembangan Pariwisata di daerah Rancabali Ciwidey
c. Mengetahui dampak social budaya dari perkembangan Pariwisata terhadap kehidupan masyarakat di Rancabali
2.Manfaat
Adapun manfaat penelitian ini, diharapkan berguna untuk berbagai pihak, sebagai berikut :
a. Teoritis
1) Sebagai bahan ilmu pengetahuan mengenai perkembangan pariwisata terhadap perubahan Sosial Budaya di masyarakat
2) Sebagai bahan ilmu pengetahuan bagi siswa disekolah pada pengajaran IPS. tentang dampak perkembangan pariwisata terhadap Sosial Budaya
3) Sikap yang dihadapi oleh masyarakat dalam menghadapi perkembangan Pariwisata.
4) Sikap yang dihadapi masyarakat terhadap perubahan social budaya
b. Praktis
1) Memberikan masukan masukan yang dapat memperkaya pemahaman perubahan sosial budaya
2) Memberikan pemahaman tentang Pariwisata yang berdampak pada perubahan sosial Budaya.
3) Bagi lembaga terkait kususnya Pemerintah Daerah dan Dinas Pariwisata, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan dalam mengantisifasi dampak pariwisata terhadap perubahan Sosial budaya menyangkut masalah masalah 7 unsur Kebudayaan Universal.






BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

A. Konsep Pariwisata
1. Interaksi antara wisatawan dengan masyarakat Lokal
Undang-undang No. 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan. (Salah satu tujuan penyelenggaraan kepariwisataan adalah untuk meningkatkan pendapatan daerah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, juga memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja serta mendorong pembangunan daerah). Untuk itu sudah selayaknya pariwisata dapat dijadikan alternatif penggerak perekonomian hingga sedemikian rupa menjadi sumber pendapatan bagi setiap daerah yang memiliki potensi untuk menyelenggarakannya, dalam upaya memperoleh atau meningkatkan pendapatan daerah.
Proses pembangunan pariwisata harus berjalan seiring dengan peningkatan “Sadar Wisata” masyarakat. Tugas aparat pemerintah adalah untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan terwujudnya peran serta masyarakat dengan cara-cara yang mudah difahami dan dilaksanakan oleh masyarakat. Sadar Wisata dikalangan masyarakat tidak tumbuh dengan sendirinya, masyarakat lebih mudah memahami apa yang mereka lihat, apa yang mereka rasakan. Pembangunan pariwisata yang manfaatnya langsung dapat dirasakan oleh masyarakat akan menciptakan iklim yang lebih baik bagi tumbuh dan berkembangnya sadar wisata dikalangan masyarakat.
Tujuan wisatawan datang ke suatu daerah antara lain didorong oleh keingian untuk mengenal, mengetahui atau mempelajari daerah dan kebudayaan masyarakat local. Selama ditempat wisata , wisatawan pasti berinteraksi dengan masyarakat local diberbagai bidang.
Bidang Pariwisata Dalam hal interaksi dengan Masyarakat luas ini semakin intensif kalau jenis pariwisata yang dikembangkan adalah pariwisata budaya dan alam, karena kedua pariwisata ini merupakan hal yang langsung dengan kehidupan masyarakat sehari hari.
Daya tarik wisatawan pada suatu daerah tujuan wisata sangat dipengaruhi oleh penerimaan masyarakat setempat yang ramah, kearifan local, mempunyai karakter alam yang berbeda dengan daerah lain, kondisi yang aman, serta sarana transportasi yang lancar. Dengan kondisi tersebut wisatawan akan merasa nyaman seolah olah milik mereka sendiri dan yang paling utama ketika mereka merasakan kenyamanan tersebut menuntut untuk datang kembali ke daerah wisata tersebut.
2. Kebudayaan Pariwisata
Dalam kajian kebudayaan Pariwisata di ulas tiga hal, yaitu a) Wisata Budaya sebagai suatu jenis wisata, b ) Pengaruh wisata terhadap Kebudayaan. Hal yang pertama, wisata Budaya diartikan sebagai jenis kegiatan pariwisata yang obyeknya adalah kebudayaan. ini dibedakan dari minat minat khuss lain. Seperti wisata alam, dan wisata petualang. Namun demikian tidak berarti bahawa seorang wisatawan tidak bisa memiliki lebih dari satu program wisata.
Obyek daya tarik wisata budaya itu dapat berkisar pada hal, kesenian (seni rupa dan segala bentuk pertunjukan ), upacara adat, demontrasi kekebalan.

3. Pengaruh Pariwisata terhadap Kebudayaan
Mengenai pengaruh pariwisata terhadap kebudayaan pada masarakat tuan rumah dapat dibedakan menjadi perkara : 1 pengaruh dalam kehidupan ekonomi, apabila kegiatan pariwisata itu dapat meningkatkan kesempatan kerja dan tingkat kemakmuran. 2) pengaruh kehadiran wisatawan mancanegara dengan kebiasaan dan busananya yang sebenarnya asing bagi masyarakat tuan rumah. Kemakmuran, apabila tidak dipandu baik baik dengan suatu sikap budaya yang benar akan dapat mengembangkan nilai nilai budaya yang berubah misalnya dari adat kekeluargaan dan gotong royong kea rah sikap”semua bisa dengan uang”.
Kehadiran wisatawan dengan segala adat kebiasaan tidak jarang juga menimbulkan efek” meniru “ pada penduduk setempat. Apa yang ditiru itu dapat baik dan buruk. Dan dalam jangka waktu tertentu dapat menggeser nilai nilai budaya setempat.
Pengaruh pariwisata terhadap masyarakat (kebudayaan) setempat, harus disadarai bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang secara internal terdeferensiasi, aktif, dan selalu berubah. Oleh karena itu pendekatan yang kiranya lebih realistis adalah dengan menganggap bahwa pariwisata adalah ‘pengaruh luar yang kemudian terintegrasi dengan masyarakat’, dimana masyarakat mengalami proses menjadikan pariwisata sebagai bagian dari kebudayaannya, atau apa yang disebut sebagai proses ‘turistifikasi’ (touristification). Di samping itu perlu juga diingat bahwa konsekuensi yang dibawa oleh pariwisata bukan saja terbatas pada hubungan langsung host-guest. Pengaruh di luar interaksi langsung ini justru lebih penting, karena mampu menyebabkan restrukturisasi pada berbagai bentuk hubungan di dalam masyarakat.
4. Dampak Periwisata terhadap Sosial Budaya
Dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan Pariwisata disuatu daerah terhadap Sosial Budaya sangat terasa apalagi daerah tersebut menerima pengaruh dengan cepat tanpa ada penyaringan yang ketat terhadap kedatangan wisatawan.. Salah satu hal adalah dimana daerah yang dituju merupakan daerah yang lemah dalam bidang ekonomi, dengan sendirinya akan mengikuti Perkembangan dan merubah tatanan perekonomian sendiri salah satu contoh mengubah mata pencaharian semula yang mereka lakukan secara tradisional menjadi lebih modern.
Masalah tentang dampak Pariwisata terhadap sosial budaya selama ini lebih cenderung mengasumsikan bahwa akan terjadi perubahan sosial-budaya akibat kedatangan wisatawan, dengan tiga asumsi yang umum, yaitu: (Martin, 1998:171):
a. perubahan dibawa sebagai akibat adanya intrusi dari luar, umumnya dari sistem sosial-budaya yang superordinat terhadap budaya penerima yang lebih lemah;
b. perubahan tersebut umumnya destruktif bagi budaya indigenous;
c. perubahan tersebut akan membawa pada homogenisasi budaya, dimana identitas etnik lokal akan tenggelam dalam bayangan sistem industri dengan teknologi barat, birokrasi nasional dan multinasional, a consumer-oriented economy, dan jet-age lifestyles.
Menurut pendapat diatas menyiratkan bahwa di dalam melihat dampak pariwisata terhadap sosial-budaya masyarakat setempat, pariwisata semata-mata dipandang sebagai faktor luar yang akan merubah secara pasti terhadap social budaya pada masyarakat local.
Pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat yang dituju, sehingga membawa berbagai dampak terhadap masyarakat setempat. Oleh karena pariwisata banyak dikatakan sebagai perubah yang laur biasa, mampu membuat masyarakat setempat mengalami perubahan dalam berbagai aspek.
Dalam perubahan yang diakibatkan oleh Pariwisata Secara teoritis, Cohen (1984) mengelompokkan dampak Pariwisata terhadap sosial budaya ke dalam sepuluh kelompok besar, yaitu:
a. dampak terhadap keterkaitan dan keterlibatan antara masyarakat setempat dengan masyarakat yang lebih luas, termasuk tingkat otonomi atau ketergantungannya;
b. dampak terhadap hubungan interpersonal antara anggota masyarakat;
c. dampak terhadap dasar-dasar organisasi/kelembagaan sosial;
d. dampak terhadap migrasi dari dan ke daerah pariwisata;
e. dampak terhadap ritme kehidupan sosial masyarakat;
f. dampak terhadap pola pembagian kerja;
g. dampak terhadap stratifikasi dan mobilitas sosial;
h. dampak terhadap distribusi pengaruh dan kekuasaan;
i. dampak terhadap meningkatnya penyimpangan-penyimpangan sosial; dan
j. dampak terhadap bidang kesenian dan adat istiadat.

Dari pendapat Cohen tersebut diatas mengenai dampak pariwisata dapat disimpulan, bahwa daerah tujuan wisata akan merasakan pengaruh yang luar biasa dari wisatawan yang datang yaitu dari mengenai unsur kebudayaan universal di daerah. Sebagai mana yang di kemukan oleh C.Kluckhohn dalam Koentjaraningrat merumuskan 7 unsur Kebudayaan .
a. Sistem Bahasa
Bahasa yang digunakan pada daerah ini adalah Sunda dengan dialek yang sama dengan sunda lainnya,
Bahasa yang dibunakan oleh masyarakat setempat baik berupa lisan maupun tulisan atau berbentuk symbol simbol
b. Sistem mata Pencaharian
Untuk menunjang hidup sehari hari, setiap masyarakat pasti memiliki mata pencaharian utama yang berbeda ditiap daerah, sehingga terdapat suku bangsa memiliki mata pencaharian yang khas dibandingkan dengan dengan suku bangsa lain.
c. Sistem Teknologi
Teknologi atau peralatan hidup lain yang dimiliki oleh setiap masyarakat mungkin berbeda beda tergantung dimana masyarakat itu berada.
d. Sistem Organisasi Sosial
Suku bangsa yang merupakan kelompok mayarakat besar akan memiliki system kemasyarakatannya yang mungkin berbeda dengan suku bangsa lain: misalnya suku bangsa sunda dan jawa.
e. Sistem Pengetahuan
Masyarakat memilki pengetahuan yang digunakan dalam kehidupan sehari hari baik dalam bidang agriris maupun dalam bidang pengobatan.
f. Sistem Kesenian
Masyarakat atau suku bangsa memiliki persaan yang dituangkan kedalam bentuk benci, sedih, gembira, jengkel, bahagia dan sebagainya.perasaan timul dari setiap individu atau masyarakat dalat dilakukan de dalam bentuk seni atau perasaan dapat muncul karena seni.
g. Sistem Religi
Kepercayaan ditiap daerah itu berbeda merupakan warisan masa lampau dari perjalanan hidup masyarakat bersangkutan sebagai warisan budayanya. Keyakinan setempat yang diyakini masyarakatnya wajib dihormati oleh masyarakat lain, begitu pula dalam upacara ritual yang berhubungan dengan keyakinan.
B. Hakikat Perubahan Sosial Budaya
1. Perubahan Sosial
Perubahan Sosial Menurut Robert H.Lauer ( 2003:4) “persefective on social” adalah perubahan penting dari struktur social yaitu pola prilaku dan anteraksi social tercakup dalam ekspresi tentang norma, nilai, dan fenomena culture sebagai variasi baru atau modifikasi dalam setiap aspek proses social, pola social dan bentuk bentuk social. selanjutnya Davis (2000:42) menjelaskan perubahan social sebagai perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. yang dipertegas oleh Mac Iver bahwa sebagai perubahan dalam hubungan social yang mengarah pada kesinambungan dalam hubungan social. Barker ( 2006 ) menegaskan perubahan social sebagai perubahan multidimensi dan saling terkait mencakup ekonomi teknologi, politik, budaya dan identitas.
Perubahan social budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur social dan pola budaya dalam suatu masyarakat.Perubahan social budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat.Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan.
Perubahan social Budaya terjadi karena beberapa factor. Diantaranya adalah : komunikasi; cara dan pola pikir masyarakat: factor internal lain seperti perubahan jumlah penduduk, penemuan baru, terjadinya konplik atau revolusi: dan faktorn eksternal seperti bencan alam dan perubahan iklim, peperangan dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Ada pula beberapa factor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang intesifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain; perkembangan iptek yang lambat; sifat masyarakat yang tradisional; ada kepentingan kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat ; prasangka negative terhadap hal hal yang baru; rasa takut jika terjadi kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan; hambatan idiologi ; dan pengaruh adat istiadat.

2. Glabolisasi dan Budaya
Globalisasi suatu proses luluhnya batas batas bangsa seakan tanpa batas merasuk dan membuat unsur unsur budaya luar masuk atau merembes dengan mudah ke budaya suatu masyarakat dewasa ini. Dalam hal ini aspek yang terpengaruh adalah kebudayaan.
Terkait dengan kebudayaan, kebudayaan dapat diartikan sebagai niali nilai (value ) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal, atau kebudayaan juga dapat didefinisikan sebagai wujudnya, yang mencakup gagasan atau ide, kelakuan dan hasil kelakuan. Dimana hal hal tersebut terwujud dalam kesenian tradisional kita. Oleh karena itu nilai nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek aspek kejiwaan atau psikologi.
Dampak globalisasi terhadap masyarakat menurut Yunan dkk (1996:140)”goncangan budaya yang ditimbulkan oleh masuknya budaya baru diterima oleh masyarakat yang lambat laun merubah budaya lama”. Dari pendapat tersebut jelas bahwa dampak yang ditimbulkan oleh globalisasi terhadap masyarakat sangat dominan sekali.
Factor yang menyebabkan perubahan social diantaranya adalah globalisasi yang sedang menjalar ke pelosok daerah yang diakibatkan oleh factor factor berikut ini, sebagaimana yang dikemukakan oleh Posman Simanjuntak,(2003:179)” a. meningkatnya perdangangan Internasional, b.kemajuan system komunikasi dan alat penghubung, c. kegiatan Pariwisata”.
Permasalahan yang dihadapi sekarang adalah proses Modernisasi yang tidak bisa dibendung, akibat dari modernisasi tersebut adalah terjadinya proses perubahan social dan budaya di tiap daerah yang melibatkan semua kondisi atau nilai nilai dan kebudayaan, maka dari itu kita harus menyadari dan memahami, bahwa manakala salah satu aspek atau unsur social atau kebudayaan mengalami perubahan, maka unsur unsur yang lainnya yang telah berubah terlebih dahulu. Karena itu mesti dipahami dan disadari bahwa system nilai yang berlaku dalam masyarakat bersangkutan ada yang berkualifikasi norma dan nilai.
a. Orientasi perubahan
Yang dimaksud orientasi atau arah perubahan disini adalah meliputi beberapa orientasi, antara lain :
a. Perubahan dengan orientasi pada upaya meninggalkan factor factor atau unsur unsur kehidupan social yang mesti ditinggalkan atau diubah.
b. Perubahan dengan orientasi pada suatu bentuk atau unsur yang memang bentuk atau unsur baru
c. Suatu perubahan yang berorientasi pada bentuk, unsur atau nilai yang telah ada pada masa yang lalu.
b. Gejala modern di daerah tradisional
Dalam dinamika proses pembangunan akan mengarah kepada modernisasi yang berujung pada perubahan perubahan social. Proses pembangunan didaerah tradisional telah membawa perubahan dalam berbagai segi tata cara hidup masyarakat tradisional baik struktur, fungsi, sikap, dan tingkah laku. Perubahan perubahan tersebut ada yang sesuai dengan kebutuhan proses pembangunan daerah tradisional tetapi terdapat juga perubahan pada beberapa aspek kehidupan kemayarakatan yang justru bertentangan dengan prinsip dan tujuan pembangunan itu sendiri. Beberpa factor yang menyebabkan terjadinya proses perubahan social di masyarakat tradisional, adalah sebagai berikut :
a. Semakin lancarnya jalur jalur transportasi antara desa dengan kota
b. Kemajuan yang pesat dibaidang komunikasi
c. System perekonomian yang berdasarkan pada kemajuan dinamika pembangunan.
C. Teori teori Perubahan Sosial Budaya
Pengelompokan teori perubahan social telah dilakukan oleh Strasser dan Randall.Perubahan sosial dapat dilihat dari empat teori, yaitu teori kemunculan dictator dan demokrasi, teori prilaku kolektif, teori inkonsistensi status dan analisis organisasi sebagai subsistem social.

no Perspektif Penjelasan tentang perubahan
1 Barrington Moore, teori kemunculan dictator dan demoktrasi Teori ini didasarkan pada pengamatan panjang tentang sejarah pada beberpa Negara yang telah mengalami transformasi dari basis ekonomi agrarian menuju basis ekonomi industri
2. Teori perilaku Kolektif Teori dilandasi pemikiran Moore namun lebih menekankan pada proses perubahan daripada sumber perubahan sosial
3. Teori Inkonsistensi status Teori ini merupakan represenyasi dari teori psikilogi social. Pada teori ini, individu dipandang sebagai suatu bentuk ketidak konsistenan antara status individu dan grup dengan aktivitas atau sikap yang didasarkan pada perubahan.
4. Analisis Organisasi sebagai subsistem sosial Alasan kemunculan teori ini adalah anggapan bahwa organisasi terutama birokrasi dan organisasi tingkat lanjut yang konpleks sebagai hasil trasformasi social yang muncul pada masyarakat modern. Pada sisi lain. Organisasi meningkatkan hambatan anatara social dan system interaksi.

Teori perilaku kolektif mencoba menjelaskan tentang kemunculan aksi social. Aksi sosial merupakan sebuah gejala aksi bersama yang ditujukan untuk merubah norma dan nilai dalam jangka waktu yang panjang. Pada sistem social seringkali dijumpai ketegangan baik dari dalam sistem atau luar sistem. Teori ini melihat ketegangan sebagai variable antara yang mengubungkan antara hubungan antar individu seperti peran dan struktur organisasi dengan perubahan sosial.
Perubahan pola hubungan antar individu menyebabkan adanya ketegangan social yang dapat berupa kompetensi atau konplik bahkan konplik terbuka atau kekerasan. Kompetisi atau konplik inilah yang mengakibatkan adanya perubahan melalui aksi sosial bersama untuk merubah norma dan nilai.
Stratifikasi social pada mayarakat praindustri belum terlalu terlihat dengan jelas dibandingkan pada masyarakat modern. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya derajat perbedaan yang timbul oleh masyarakat oleh adanya pembagian kerja dan kompleksitas organisasi. Status social masih terbatas pada bentuk ascribed status, yaitu suatu bentuk status yang diperoleh sejak dia lahir. Mobilitas social sangat terbatas dan cenderung tidak ada. Kritik status mulai muncul seiring perubahan moda produksi agraris menuju moda produksi kapitalis yang ditandai dengan pembagian kerja dan muncul organisasi komplek.
Perubahan Masyarakat yang terjadi selama ini secara umum menyangkut perubahan perubahan struktur, fungsi budaya, dan prilaku masyarakat.
Suatu proses yang mengakibatkan keadaan sekarang berbeda dengan keadaan sebelumnya, perubahan bisa berupa kemunduran dan bisa juga berupa kemajuan ( progress ). Sedangkan masyarakat artinya sekelompok ikatan nilai dan norma norma social. Istilah masyarakat dapat juga diartikan sebagai wadah atau tempat orang orang yang saling berhubungan dengan hokum dan budaya tertentu untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut Sumarjan dan Soemardi ( 1964 ) bahwa perubahan perubahan pada lembaga lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi system sosialnya, termasuk didalamnya nilai nilai, sikap sikap dan pola pola perlakuan diantara kelompok kelompok dalam masyarakat. Hal ini menunjukan bahwa betapa luasnya bidang bidang yang mungkin mengalami perubahan.Oleh karena itu perubahan pada masyarakat berarti juga perubahan pada kebudayaan, maka tidak mudah untuk mengemukakan batasannya secara ringkas dan terperinci karena bidang kajian cukup luas.
Kendala yang cukup serius dalam hubungannya dengan proses perubahan perubahan masyarakat yang semakin cepat adalah ketertinggalan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi baru, sehingga upaya untuk dapat mengimbangi tuntutan kecepatan perubahan itu mengalami keterlambatan. Keterlambatan perubahan ini terjadi karena dalam proses perubahan masyarakat yang semakin cepat itu terdapat kumulasi benturan budaya dan kepentingan hidup. Di satu pihak masyarakat berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan dan mengembangkan kualitas kepentingan ekonomi yang semakin terbatas, dipihak lain harga barang dan jasa meningkat, serta menurunkan kepercayaan terhadap penguasa dan eksitensi hukum.
Untuk mengatasi masalah tersebut, maka sedikitnya perlu ada 4 upaya yaitu: pertama peningkatan lapangan kerja dan potensi perekonomian masyarakat; kedua, peningkatan keterampilan dan pengetahuan teknis terhadap pelaku atau aparat pembangunan( agen of change ); ketiga peningkatan terhadap kualitas nilai nilai moral, agama, dan kesadaran hokum masyarakat dan plaku pembangunan; keempat mempertahankan dan meningkatkan wibawa dan kesadaran hokum pemerintahan dengan memberikan teladan perilaku yang baik dan benar sesuai dengan cita cita pembangunan nasional.
Disimpulkan bahwa perubahan bahwa perubahan masyarakat pada dasarnya merupakan perubahan pola perilaku kehidupan dari seluruh norma norma social yang lama menjadi pola perilaku dan seluruh norma norma social yang baru.
Dalam memenuhi kebutuhan hidup, manusia melakukan berbagai usaha dengan menggunakan ilmu dan ketrempilan yang dimiliki bentuk usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup diantaranya adalah kegiatan pertanian, perikanan dan sebagainya.
















D. Kerangka Pemikiran
Untuk lebih memahami dan memudahkan dalam proses penelitian, kiranya perlu diuraikan mengenai kerangka penelitian.





















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Obyek Penelitian

Penelitian Ini dilakukan di Daerah Bandung Selatan Tepatnya di Kecamatan Rancabali, Ciwidey dan Pasirjambu. Merupakan daerah tujuan wisata alam yang sudah lama menjadi lambang Kabupaten Bandung.
Tempat wisata tersebut diantanya adalah wisata Perkebunan teh Rancabali, Sinumbra, Situ Patenggang, Pemandian air panas untuk pengobatan di Cibuni, emandian air panas walini, Cimanggu, penangkaran Rusa di Rancaupas dan Kawah putih

B. Metodologi Penelitian
Dalam proposal ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif. Hal ini disebabkan karena kualitatif lebih mendalam mengenai permasalahan manusia sebagai intrumen penelitian. Metode wawancara, observasi dan dokumentasi, juga teknik teknik analisisnya lebih merupakan ekstensi dari prilaku manusia, seperti mendengarkan , melihat, bicara, berinteraksi dan bertanya.
Menurut pendapat Edmund Husserl (1928) Penelitian Kualitatif adalah salah satu model penelitian Humanistik, yang menempatkan manusia sebagai subyek utama dalam peristiwa social/budaya. Jenis penelitian ini berlandaskan pada filasafat fenomenologi. Kemudian dikembangkan oleh Max Webber ( 1864-1920 ) kedalam sosiologi, sifat humanistic dari aliran pemikiran ini terlihat dari pandangan tentang posisi manusia sebagai penentu utama prilaku manusia yang tampak merupakan konsekwensi konsekwensi dari sejumlah pandangan atau doktrin yang hidup di kepala manusia pelakunya. Jadi, ada sejumlah pengertian, batasan batasan, atau kompleksitas makna yang hidup di kepala manusia pelaku, yang membentuk tingkah laku yang terekpresi secara ekplisit.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berguna untuk memperoleh penemuan penemuan yang tidak terduga sebelumnya dan membangun kerangka teoritis baru. Penelitian kualitatif biasanya mengejar data verbal yang lebih mewakili fenomena dan bukan angka angka yang penuh prosentasi dan merata yang kurang mewakili keseluruhan phenomena.
Penelitian kualitatif sebagaimana yang didefinisikan oleh Boddan dan Taylor (1975:5) yaitu :
Refers to research procedures which prosedur descriptive data : peolple’s own written or spoken words and the observable behavior, this approach, direch irself at scventting ang the individuals within those setting and the study, be it an organization or an individuals, is not reduced to an isolated variable vor to an hypothesis, but is viewed instead as part of a whole.
Menurut Boddan bahwa rancangan penelitian kualitataif, diibaratkan seperti orang mau bepergian, sehingga ia baru tahu keadaan dan situasi tempat yang mau dituju, tetapi belum tahu pasti apa yang ada di tempat itu. Ia akan tahu setelah memasuki wilayah yang baru itu dengan cara membaca, berbagai informasi tertulis, gambar gambar, berfikir dan melihat obyek dan kegiatan orang yang ada disekitar lingkungan tersebut. Pada tahap ini peneliti mendeskripsikan apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan ditanyakan. Setalah peneliti terjun ke lapangan maka proses selanjutnya adalah tahap reduksi/focus, maka pada tahap ini peneliti mereduksi segala informasi yang telah diperoleh pada tahap pertama. Tahap reduksi ini peneliti menyortir data dengan cara memilih man data yang menarik , penting, berguna, dan baru. Data yang dirasakan tidak terpakai singkirkan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka data data tersebut selanjutnya dikelompokan menjadi berbagai katagori yang ditetapkan sebagai focus penelitian. Kemudian tahap selanjutnya adalah peneliti melakukan analisis yang medalam terhadap data dan informasi yang diperoleh, maka peneliti dapat menemukan tema dengan cara memfokuskan data yang diperoleh menjadi suatu bangunan pengetahuan yang baru.
Metode penelitian ini menggunakan Etnografi dengan pendekatam fenomenologi dalan studi tentang penelitian masyarakat, Etnografi adalah berasal dari kata ethnos yang berarti bangsa dan graphein yang berarti tulisan atau uraian. Jadi berdasarkan asal katanya, etnografi berarti tulisan tentang/ mengenai bangsa. Namun pengertian tentang etnografi tidak hanya sampai sebatas itu. Burhan Bungin ( 2008:220) mengatakan etnografi merupakan embrio dari antropologi. Artinya etnografi lahir dari antropologi di mana jika kita berbicara etnografi maka kita tidak lepas dari antropologi setidaknya kita sudah mempelajari dasar dari antropologi. Etnografi merupakan ciri khas antropologi artinya etnografi merupakan metode penelitian lapangan asli dari antropologi ( Marzali 2005:42).
Etnografi biasanya berisikan/menceritakan tentang suku bangsa atau suatu masyarakat yang biasanya diceritakan yaitu mengenai kebudayaan suku atau masyarakat tersebut. Dalam membuat sebuah etnografi, seorang penulis etnografi (etnografer) selalu hidup atau tinggal bersama dengan masyarakat yang ditelitinya yang lamanya tidak dapat dipastikan, ada yang berbulan-bulan dan ada juga sampai bertahun-tahun. Sewaktu meneliti masyarakat seorang etnografer biasanya melakukan pendekatan secara holistik dan mendiskripsikannya secara mendalam atau menditeil untuk memproleh native’s point of view. Serta metode pengumpulan data yang digunakan biasanya wawancara mendalam ( depth interview) dan obserpasi partisipasi di mana metode pengumpulan data ini sangat sesuai dengan tujuan awal yaitu mendeskripsiakan secara mendalam.
Membuat etnografi juga merupakan hal yang wajib dilakukan uuntuk para sarjana antropologi. Seperti yang ditulis oleh Marzali (2005:42):

Bagaimanapun, etnografi adalah pekerjaan tingkat awal dari seorang ahli antropologi yang propesional. Etnografi adalah satu pekerjaan inisiasi bagi yang ingin manjadi ahli antropologi professional. Seseorang tidak mungkin dapat diakui sebagai seorang ahli antropologi professional jika sebelumnya dia tidak melakukan sebuah etnografi, dan melaporkan hasil penelitiannya. Hasil penelitiannya ini harus dinilai kualitasnya…Untuk meningkat ke peringkat yang lebih tinggi maka…pekerjaan yang harus dilakukan selanjutnya adalah apa yang disebut sebagai comperative study, basik secara diakronis maupun secara sinkronis.

Jika kita membaca tulisan tersebut, terlihat penulis ingin menekankan bahwa membuat etnografi itu merupakan suatu kewajiban. Sesorang sarjana antropologi wajib menghasilkan sebuah etnografi jika belum maka seseorang tersebut belum dikatakan seorang sarjana antropologi. Namun jika sudah maka seseorang tersebut berhak untuk dikatakan seorang sarjana antropologi namun belum bisa dikatakan sebagai ahli antropologi sesungguhnya ( ahli etnologi ). Seseorang dikatakan ahli etnologi apabila seseorang tersebut melakukan pekerjaan yang lebih tinggi yaitu comparative study dalam basic diakronis maupun sinkronis.
C. Informan penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mencari sumber dengan bantuan informan atau orang yang dapat memberikan laporan tentang kondisi lapangan, seperti yang dikemukakan oleh Moleong (2000:90)”
Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan Informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian, menpunyai pengalaman tentang latar penelitian, sukarela menjadi anggota tim dengan memerikan pandangan dari segi orang tentang nilai nilai, sikap, proses, dan kebudayaan yang menjadi latar penelitian setempat”
Dari pendapat tersebut dapat ditafsirkan bahwa Informan harus betul betul memahami daerah penelitian dengan sukarela membantu mendapatkan informasi guna kelancaran penelitian sehingga penelitian tersebut dapat terlaksana sesuai dengan tujuan.
Kegunaan informan juga dapat dikatakan sebagai peran yang sangat penting mengingat dalam hal ini peneliti masih awam dalam bidang etnografi maka peran informan dapat melancarkan penelitian didaerah yang diteliti sebagaimana yang dikemukakan oleh Lincoln dan guba dalam Moleong (2000:90)” Kegunaan Informan bagi peneliti ialah membantu agar secepatnya dan tetap seteliti mungkin dapat membenamkan diri dalam konteks setempat terutama bagi peneliti yang belum mengalami latihan etnografi”.
Untuk itu pemanfaatan informan bagi peneliti ialah agar dalam jangka waktu yang relative singkat banyak informasi yang terjangkau, karena informan dimanfaatkan untuk berbicara, bertukar pikiran, atau membandingkan suatu kejadian yang ditemukan dari subyek lainnya.
Penelitian ini menggunakan istilah “ Social Situation” sebagaimana pendapat Spradly (1980:242) “ terdapat tiga elemen untuk mendapatkan informan penelitian diantaranya adalah tempat (place), pelaku (action), dan aktivitas (activity).
D. Pemilihan Informan Penelitian
Dalam pengambilan data digunakan teknik purposive sampling adalah teknik pengambilan informan sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalya adalah orang tersebut dianggap yang paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin orang tersebut menjadi penguasa sehingga akan memudahkan mencari informasi yang diteliti. Moleong (2000:90) mengemukakan bahwa :
Dalam menentukan Informan dapat dilakukan dengan cara (1). Melalui keterangan orang yang berwenang baik secara formal (pemerintah) maupun informal (non pemetintah pemimpin masyarakat seperti tokoh masyarakat,pemimpin adat, dan lain lain) .(2) melalui wawancara pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti.
Dari pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuannya adalah agar peneliti dapat memperoleh informasi yang akurat dan benar benar memenuhi persyaratan karena informan tersebut mengetahui secara lengkap tentang lapangan atau daerah penelitian tersebut.
Lincoln dan Guba ( 1985 : 247 ) mengemukakan bahwa:
Naturalistic sampling is, then very different from convensional smpling. It is based on information, not statistical, consi deration, its purpose is to maximize on information, to facilitate generalization.
Penetuan sampel dalam penelitian kualitatif sangat berbeda dengan penetuan sampel dalam penelitian konvensional ( kuantitatif ). Penetuan sampel dalam penelitian kualitatif tidak didasarkan perhitungan statitik. Sampel yang dipilih berfungsi untuk mendapatkan informasi yang maksimum, bukan untuk digeneralisasikan.
Karena itu, menurut Lincoln dan Guba ( 1985 : 247 ), dalam penelitian naturalistic spesifikasi informal tidak dapat ditentukan sebelumnya. Sedangkan ciri ciri khusus informan purposive, yaitu:
1. Emergent sampling design/sementara
2. Serial seleksion of sample units/mengelinding seperti bola salju
3. Continuous adjustmen or focusing of the sample/ disesuaikan dengan kebutuhan
4. Selection to the point of redundancy / dipilih sampai jenuh
Seperti telah dikutip diatas dalam informan purpouse besar informan ditentukan oleh pertimbangan informasi. Seperti ditegaskan oleh Lincoln dan Guba ( 1985 : 247 ) bahwa “ if the purpouse is to maximize information,then sampling is terminated when no new information is forth-coming from newly sampled units; this redundance is the primary criterion”. Dalam hubungan ini Nasution ( 1988 : 248 menjelaskan bahwa penetuan unit informan dianggap telah memadai apabila telah sampai kepada taraf redundance ( data telah jenuh, ditambah informan tidak lagi memberikan informasi yang baru ) artinya bahwa dengan menggunakan informan selanjutnya boleh dikatakan tidak lagi diperoleh tambahan informasi baru yang berarti.
Mengingat penelitian ini adalah etnografi maka jelas factor informan sangat menentukan untuk kelangsungan penelitian maka dapat dijelaskan bahwa informasi yang diperoleh dilapangan adalah salah satu syarat mutlak
Penelitian etnografi yang dilakukan dapat peneliti peroleh melalui informan menjaring data di lokasi berupa pola-pola kultural. Etnografer menjaring data dengan cara bertanya langsung atau tinggal bersama dengan para partisipan untuk mengamati bagaimana pola-pola yang mereka gunakan ketika bekerja, bersantai, beribadah, dan lain-lain. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam, peneliti bisa turut serta bekerja, bermain, atau beribadah dengan para partisipan.
Data-data yang didapat dilapangan dibedakan ke dalam tiga jenis: data emik, data etik, dan data negosiasi. Data emik merupakan informasi yang diberikan langsung oleh para partisipan. Data ini sering disebut sebagai konsep-konsep tingkat pertama, yang berbentuk bahasa lokal, pemikiran-pemikiran, cara-cara berekspresi yang dimiliki/digunakan secara bersama-sama oleh para partisipan. Data etik merupakan informasi berbentuk interpretasi peneliti yang dibuat sesuai dengan perspektif para partisipan. Data ini sering disebut sebagai konsep-konsep tingkat kedua, yaitu ungkapan-ungkapan atau terminologi yang dibuat peneliti untuk menyatakan fenomena yang sama dengan yang diungkapkan para partisipan. Data negoisasi merupakan informasi yang disetujui bersama oleh para partisipan dan peneliti untuk digunakan dalam penelitian. Negoisasi dapat terjadi dalam tahapan yang berbeda-beda selama pelaksanaan penelitian. Di awal penelitian, misalnya, para partisipan dan peneliti meyepakati bidang-bidang apa saja yang akan digali oleh peneliti, bagaimana memperlakukan setiap individu di lapangan penelitian, dan lain sebagainya, dan sebagainya. Pada saat penelitian berlangsung, peneliti dapat mengklaifikasi makna, penggunaan,dan ruang lingkup sebuah ungkapan.

E. Instrument dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian

1. Instrumen Penelitian
Instrument penelitian adalah peneliti sendiri. Karena itu peneliti sebagai instrument juga harus “divalidasi” sejauh mana peneliti siap melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan. Penguasaan wawancara terhadap bidang yang diteliti, kesiapan peneliti untuk memasuki obyek penelitian, peneliti adalah Human Instrumen, berfungsi sebagai penetap fakus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya.


2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti yaitu menggunakan teknik wawancara, dokumentasi dan observasi yang didapat dari data langsung lapangan melalui wawancara serta sumber yang didapat sebagai pelengkap diambil dari dokumen dokumen baik yang ada di lapangan maupun yang ada di luar lapangan seperti perpustakaan. Selanjutnya Teknik pengumpulan data yang didapat yaitu tentang cara yang gunakan dalam memecahkan masalah dengan menggunakan metode tertentu. Dalam kaitannya dengan penelitian ini pengumpulan data didasarkan atas metode, tujuan dan kondisi tempat yang dijadikan obyek penelitian.
Pengumpulan data dilakukan pada kondisi yang alamiah, sumber, data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak data observasi berperan serta, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Dalam hal ini digambarkan pada table dibawah ini.





Gambar 2.2. macam teknik Pengumpulan data
Dari gambar tersebut diatas dapat dijelaskan bahwa untuk mendapatkan data di daerah penelitian dilakukan dengan tiga macam teknik ialah wawancara, Dokumentasi dan observasi yang akan dijelaskan dibawah ini.
1. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlaku. Dokumen bisa berbetuk tulisan, gambar atau karya karya monumental dari seseorang. Hasil penelitian dari observasi atau wawancara, akan semakin kredibel/dapat dipercaya apabila didukung oleh poto poto, karya tulis akademik, buku, jurnal dan sejenisnya. Dalam hal ini Guba dan Lincoln dalam Moloeng (2000:161) mendefinisikan perbedaan dokumen dengan record.
Record adalah setiap pernyataan tertulis yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa atau penyajian akunting. Dokumentasi adalah setiap bahan tertulis atau film, lain dari record yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan penyidik.
Perhatian pembahasan disini adalah diarahkan kepada dokumen dalam arti jika peneliti menemukan record, tentu saja perlu dimanfaatkan. Masih menurut Guba dan Lincoln dalam Moloeng (2000:161) dokumen dan record digunakan untuk keperluan penelitian dengan alasan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan seperti :
a. Dokumen dan recard digunakan karena merupakan sumber yang stabil, kaya, dan mendorong.
b. Berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian
c. Keduanya berguna dan sesuai dengan penelitian kualitatif karena difatnya yang alamiah, sesuai dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks.
d. Recold relative murah dan tidak sukar diperleh, tetapi dokumen harus dicari dan ditemukan
e. Keduanya tidak reaktif sehingga tidak sukar ditemukan dengan teknik kajian isi.
f. Hasil pengkajian ini akan membuka kesempatan untuk lebih mempeluas tubuh pengetahuan terhadap sesuatu yang diteliti.
Dokumen dan recard merupakan sumber yang dapat dijadikan bukti otentik dalam menguji dan melengkapi materi penelitian sehingga penelitian tersebut sempurna.
2. Wawancara
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal hal dari responden yang lebih mendalam. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau setidaknya pada pengethuan dan keyakinan pribadi.
Menurut Nasution (2008:113) wawancara atau interviu adalah suatu bentuk komunikasi verbal jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi. Dari pendapat diatas arti interviu sebenarnya adalah bukan wawancara yang dilakukan oleh 2 orang tetapi dapat juga sekaligus diinterviu dua atau lebih. Sedangkan Menurut Esterberg ( 2002 ) mendefinisikan wawancara sebagai berikut “ a meeting of two persons to exchange information and idea through question and responses, resulting in communication and joint contruction of meaning about a particular topic” wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui Tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topic tertentu.
Wawancara tak berstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk mengumpulkan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Persiapan wawancara tak berstruktur dapat diselenggarakan menurut tahap tahap tertentu sebagaimana yang dikemukakan Moloeng(2000:145)
Tahapan pertama adalah menemukan siapa yang akan diwawancarai. Mereka adalah yang berperan, yang pengetahuannya luas tentang daerah atau lembaga tempat penelitian, dan yang suka bekerja sama untuk kegiatan penelitian yang sedang dilakukan.
Tahap kedua adalah mencari tahu cara yang sebaik baiknya untuk mengadakan kontak dengan mereka. Karena responden adalah orang orang pilihan, dianjurkan agar jangan membiarkan orang ketiga yang menghubungi, tetapi peneliti sendirilah yang melakukannya.
Langkah ke tiga adalah mengadakan persiapan yang matang untuk pelaksanaan wawancara hal ini berarti pewawancara hendaknya mengadakan latihan terlebih dahulu bagaimana memperkenalkan diri dan memebrikan ikhtisar singkat tentang penelitian.
Dari pernyataan diatas jelas bahwa wawancara yang dilakukan peneliti harus mempunyai persyaratan yang dapat memberikan jawaban yang diinginkan tidak bersifat dugaan atau kira kira tetapi jawaban tersebut betul betul merupakan jawaban yang nyata tentang keadaan daerah tersebut. Oleh sebab itu Dalam hal ini penulis mengadakan wawancara langsung dengan tokoh yang relevan dan mengerti betul keadaan daerah termpat diantaranya dengan sesepuh daerah , kepala desa/ staf desa. Tokoh masyarakat atau tokoh adat. Menyangkut permasalahan yang diteliti yaitu “Dampak perkembangan pariwisata terhadap social budaya Masyarakat Rancabali “ dari segi mata pencaharian, kesenian dan religi.
Untuk merekam wawancara yang penulis lakukan agar berjalan dengan baik maka diperlukan alat alat yang menunjang kegiatan tersebut :
1) Buku cacatan, berfungsi untuk mencatat semua percakapan dengan sumber data
2) Handycam adalah untuk merekam semua percakapan atau pembicaraan
3) Camera berfungsi sebagai pemotret keadaan sekitar
Dengan alat perekam tersebut peneliti dapat menganalisa kembali hasil wawancara yang dilakukan dilapangan.
3. Observasi partisipasi.
Observasi yang dilakukan peneliti bertujuan untuk memperoleh gambaran atau informasi tentang keadaan dan kegiatan manusia didaerah atau wilayah yang diteliti sebagaimana yang dikemukakan oleh Nasution (1982 :123) “ observasi di lakukan untuk memperoleh informasi tentang kelakuan manusia seperti terjadi dalam kenyataan” melalui observasi penulis belajar tentang prilaku manusia dan makna dari perilaku tersebut. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan observasi partisipasi pasif, peneliti datang ke tempat kegiatan orang yang diamati tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Dengan demikian instrument penelitian ialah peneliti itu sendiri, yang terlebih dahulu perlu sepenuhnya memahami dan adaftif dalam situasi yang dihadapi.
Menurut patton dalam Nasution (1988:257) manfaat observasi adalah:
a. Dengan observasi dilapangan peneliti akan lebih mampu memahami konteks data dalam keseluruhan situasi social, jadi akan dapat diperoleh pandangan yang holistic atau menyeluruh.
b. Dengan observasi maka akan diperoleh pengalaman langsung, sehingga memungkinkan peneliti menggunakan pendekatan induktif,jadi tidak dipengaruhi oleh konsep atau pandangan sebelumnya.
c. Dengan observasi peneliti dapat melihat hal hal yang kurang atau tidak diamati orang lain,khususnya orang yang berada dalam lingkungan itu, karena telah dianggap dan karena itu tidak akan terungkapkan dalam wawancara.
d. Dengan observasi peneliti dapat menemukan hal hal yang sedianya tidak akan terungkap oleh responden dalam wawancara karena bersifat sensitive atau ingin ditutupi karena dapat merugikan nama lembaga.

Dari pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa observasi merupakan alat yang dapat membantu peneliti untuk mengumpulkan data yang lebih lengkap dari lingkungan yang diteliti dan sebagai alat penelitian yang mungkin tidak terungkap dalam wawancara di lapangan.

F. Analisis data
Dalam penelitian ini, data yang diperoleh dari berbagai sumber, dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam macam dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh.
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan bahan lainnya, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.
Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Proses analisis data dimulai dengan penelaahan seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, dokumentasi, dan observasi yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar dan foto. Data tersebut banyak sekali, setelah dibaca, dipelajari dan di telaah, maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data, yang dilakukan dengan mebuat Abstraksi. Langkah berikutnya adalah menyusun dalan satuan satuan
Dalam hal ini Naution (1988:275) menyatakan bahwa “analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun kelapangan, dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian.
1. Analisis sebelum di lapangan
Penelitian masih sementara dan akan dikembangkan setelah peneliti masuk dan selama dilapangan.
2. Analisis data dilapangan
Dapat dilakukan oelh peneliti setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu.pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi, sampai tahap tertentu, maka diperoleh data yang dianggap valid.

2 komentar:

  1. kang artikel nya bagus,, menginspirasi saya buat skripsi!! hehe

    BalasHapus
  2. kita juga punya nih artikel mengenai kepariwisataan, silahkan dikunjungi dan dibaca , berikut linknya
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/3303/1/Kommit2004_Komputer_008.pdf
    semoga bermanfaat

    BalasHapus